Jumat, 06 Agustus 2010

karya ilmiah di ciwidey

TEKNOLOGI TEPAT GUNA
PADA PROSES PENGOLAHAN TEH

KARYA TULIS
DISUSUN SEBAGAI PERSYARATAN DALAM MENGIKUTI UJIAN NASIONAL DAN LAPORAN DALAM RANGKA STUDY EXPERIENCE SISWA SISWI MAN SURABAYA
DI CIWIDEY
BANDUNG, JAWA BARAT






FENI HARIYATI
NOMOR INDUK : 6589
KELAS : XI-IPA-3

MADRASAH ALIYAH NEGERI SURABAYA
JALAN BENDUL MERISI SELATAN IX/20       031-8435266 SURABAYA 60239
E-mail : man-surabaya@plasa.com
2010
MOTTO

“DIFFERENT ISN’T ALWAYS BETTER,

BUT THE BEST IS ALWAYS DIFFERENT”



“PERBEDAAN TIDAKLAH SELALU LEBIH BAIK,
AKAN TETAPI YANG TERBAIK SELALU BERBEDA”











PENGESAHAN

Karya Tulis yang berjudul Teknologi Tepat Guna Pada Proses Pengolahan Teh
Disusun Sebagai Laporan Dalam Rangka Kunjungan Lapangan Siswa-Siswi MAN Surabaya Di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat ini telah diperiksa dan disetujui pada :

Hari          :
Tanggal  :



Surabaya, 25 Juni 2010
MENGETAHUI                                                                     PEMBIMBING,
KEPALA MAN SURABAYA



Drs. H. AMIN MAULANI, MM.                                             
NIP. 195201131981031004                                                    NIP.



ABSTRAKSI

Masyarakat pada umumnya gemar mengkonsumsi teh sebagai minuman sehari-hari. Akan tetapi, akhir-akhir ini beberapa diantaranya enggan mengkonsumsi teh karena takut akan menimbulkan efek kecanduan seperti halnya kopi.

Asumsi tersebut beredar karena, ada beberapa kandungan yang ada didalam teh sama dengan yang ada didalam kopi.

Pada penelitian yang penulis adakan ternyata kecil kemungkinan teh akan menimbulkan efek kecanduan bagi para pengkonsumsinya, akan tetapi sebagian besar teh dapat berkhasiat untuk :
·  Menyembuhkan beragam penyakit
·  Menambah awet muda
·  Melangsingkan tubuh












KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur patut kita panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga karya tulis Teknologi Tepat Guna pada Proses Pengolahan Teh ini dapat disusun dan telah selesai tanpa ada halangan yang berarti. Tak lupa sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi besar kita Nabi Muhammmad Saw sebagai tauladan kita semua.

Karya tulis ini disusun dengan maksud untuk memenuhi persyaratan dalam mengukuti ujian nasional dan sebagai laporan dalam rangka study experience di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat. Karya tulis ini disajikan secara efektif dan disusun mengacu pada Pedoman Umum Penyusunan Laporan dalam Bentuk Karya Tulis dan sesuai dengan Teknik Penyusunan Laporan yang telah diberikan.

Demikian prakata yang dapat saya susun, apabila ada kesalah saya mohon maaf, tak lupa kritik dan saran selalu saya harapkan agar karya tulis yang selanjutnya dapat lebih baik lagi. Mudah-mudahan karya tulis ini bermanfaat bagi siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri Surabaya.


Surabaya, Juni 2010                                                                                      Penulis
DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………………..i
Motto……………………………………………………………………………...ii
Halaman Pengesahan……………………………………………………………..iii
Abstraksi………………………………………………………………………….iv
Kata Pengantar………………………………………………………………….....v
Daftar Isi……………………………………………………………………...…..vi
Daftar Gambar……………………………………………………..……………viii
BAB    I          PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah……………………………………….1
B.     Rumusan Masalah……………………………………………..2
C.     Tujuan Penelitian……………………………………………...2
D.     Pembatasan Masalah…………………………………………..2
E.      Sumber Data yang Digunakan………………………………...4
F.      Pengumpulan Data…………………………………………….4
BAB    II          PEMBAHASAN
A.     Pengertian Teh………………………………………………...6
B.     Proses Pengolahan dan Pengelompokan  Teh di PTP. Nusantara VIII Rancabali………………………………………………...7
C.     Produk Teh Produksi PTP. Nusantara VIII Rancabali…………………………………………………….14
D.     Manfaat Umum Teh Produksi PTP. Nusantara VIII Rancabali…………………………………………………….17
BAB    III         PENUTUP
A.     Kesimpulan…………………………………………………..19
B.     Saran…………………………………………………………20
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………21

















DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Proses Pelayuan………………………………………………………8
Gambar 2.2 Proses Penggilingan………………………………………………….8
Gambar 2.3 Proses Pemotongan…………………………………………………..9
Gambar 2.4 Proses Pengeringan…………………………………………………..9
Gambar 2.5 Proses Pengayakan………………………………………………….10
Gambar 2.6 Proses Uji Mutu…………………………………………………….10
Gambar 2.7 Macam-macam jenis Teh…………………………………………...14
Gambar 2.8 Teh Walini…………………………………………………………,,15


 
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Kesejahteraan bangsa dapat dibuktikan tidak hanya bergantung pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisiker daya alam an modal, tetapi bersumber pada modal intelektual, sosial, dan kepercayaan (kredibilitas). Oleh karena itu tuntutan untuk terus menerus memutakhirkan berbagai macam pengetahuan menjadi suatu keharusan. Begitu pula dengan pembuatan suatu produk yang mampu menembus pasaran dunia juga tidak hanya bergantung pada sumber daya alam dan modal, melainkan juga bersumber pada modal intelektual, sosial, dan kepercayaan yaitu dengan meningkatkan SDM yang ada.
Upaya peningkatan kualitas produk-produk dunia di Indonesia dilakukan terus menerus. Peningkatan kualitas teh yang dihasilkan juga terus dilakukan. Mulai dari penggunaan teknologi yang sangat sederhana hingga alat-alat yang sangat modern dan cangih dalam memproduksi teh. Saat ini, alat-alat yang digunakan pun juga masih belum semaksimal mungkin, sehingga perlu adanya peninjauan lebih lanjut terhadap alat-alat yang digunakan.
Dengan adanya penelitian yang telah dilakukan penulis, timbul suatu keinginan untuk melihat peningkatan kualitas produksi teh, baik para pekerja yang ada hingga alat-alat yang digunakan. Dengan adanya karya tulis ini, diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan siswa-siswi MAN Surabaya akan adanya proses pembuatan teh di PTP Nusantara VIII Rancabali, Ciwidey, Jawa Barat
B.  Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut :
  1. Bagaimanakah proses pengolahan pucuk daun teh di PTP Nusantara VIII Rancabali?
  2. Apakah manfaat dari produk produk olahan teh yang diproduksi oleh PTP Nusantara VIII Rancabali ?
  3. Apakah mengkonsumsi teh secara teratur akan menimbulkan efek kecanduan seperti halnya kopi ?

C.  Tujuan Penelitian 
Sesuai dengan permasalahan diatas, penelitian ini bertujuan untuk :
  1. Mengetahui proses pengolahan pucuk daun teh di PTP Nusantara VIII Rancabali.
  2. Mengetahui berbagai macam manfaat dari produk olahan teh yang diproduksi oleh PTP Nusantara VIII Rancabali.
  3. Membuktikan bahwa kandungan kafein di teh tidak sama dengan yang ada di kopi, sehingga mengkonsumsi teh tidak akan menimbulkan kecanduan.

D.  Pembatasan Masalah
Banyak teknologi saat ini yang merusak bumi kita melalui polusi atau dengan menguras sumber daya alami yang tidak dapat diperbarui dilingkungan kita. Ini juga menyebabkan siklus cuaca yang lebih ekstrim. Keadaan ini akan memburuk, kecuali apabila perubahan dibuat diseluruh dunia dan menggunakan teknologi yang lebih berkelanjutan, hal ini akan membuat kontribusi yang besar kepada masa depan dunia yang berkelanjutan.
Ada banyak teknologi yang dapat menggantikan praktik-praktik lazim yang merusak.
Teknologi ini disebut teknologi tepat guna karena :
1. Menggunakan keahlian setempat
2. Dirawat dan diperbaiki menggunkan keahlian setempat
3. Tidak mencemari lingkungan
4. Tidak mengurangi sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui
5. Dimengerti dan dirawat oleh masyarakat yang menggunakannya
6. Harga terjangkau
7. Hemat energi listrik, tenaga, bahan bakar cair, kayu bakar, dll
8. Sebisa mungkin mengunakan energi alami yang dapat diperbarui
Teknologi tepat guna membantu meningkatkan kualitas kehidupan, selain itu membantu Indonesia untuk menjaga tanah serta lingkungannya demi perkembangan menuju masa depan yang berkelanjutan. Hal ini juga akan meningkatkan kualitas lingkungan dunia.
Salah satu contoh penggunaan teknologi tepat guna yaitu di PTP Nusantara VIII Rancabali yang merupakan perkebuan sekaligus pabrik pemroduksi teh di Jawa Barat. Tempat tersebut dapat memproduksi teh dengan baik, apabila dipenuhi dengan keadaan cuaca yang mendukung. PTP Nusantara VIII menggunakan keahlian dari penduduk setempat serta dirawat dan diperbarui oleh penduduk setempat pula. Berbagai macam produk teh yang dihasilkan mampu menembus pasaran dunia dan mampu membanggakan negara tempat tumbuhnya dihadapan negara lain. Khasiat-khasiatnya pun juga dapat dirasakan oleh para pengkonsumsinya, baik didalam maupun diluar negeri.  Oleh karena itu, Pabrik tersebut dapat membantu dalam peningkatan kualitas kehidupan tidak hanya di tanah air, melainkan juga di seluruh dunia

E.  Sumber Data yang Digunakan
Penulis mendapatkan berbagai macam data untuk menyusun karya ilmiah ini berdasarkan penelitian/observasi langsung di lokasi penelitian yang dilaksanakan pada 20-23 Juni 2010 di Ciwidey, Bandung, Jawa Barat. Penulis memfokuskan penelitian di PTP Nusantara VIII Rancabali untuk memperoleh informasi dan data-data sebagai sumber untuk penyusunan karya ilmiah tentang teh. Penelitian/observasi dipilih sebagai sumber pemerolehan data, karena melalui penelitian data yang diperoleh dapat lebih dipertanggung jawabkan atas kebenarannya.

F.  Pengumpulan Data
Dalam penyusunan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data melalui pengamatan langsung. Melalui metode tersebut, data-data yang didapatkan penulis dapat lebih layak untuk dipertanggung jawabkan. Selama proses pengamatan berlangsung, penulis berusahan untuk mendapatkan berbagai data guna mempermudah proses penyusunan karya ilmiah nantinya.
Guna mendukung dalam proses pemerolehan data, penulis menggunakan berbagai jenis dan kriteria alat pengumpul data. Diantaranya :
1.      Kamera
2.      Buku
3.      Alat tulis
Dengan adanya alat-alat pengumpul data diatas, penulis mampu mendapatkan data-data yang digunakan selama penulisan karya ilmiah ini secara maksimal.














BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Teh
Teh didefinisikan sebagai minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Daun ini adalah penghasil minuman terkenal di seluruh dunia. Minuman teh paling banyak kedua di konsumsi manusia setelah air putih. Menurut data dari perkebunan teh pada 2007, sekitar 3,8 juta ton teh kering di proses di seluruh penjuru Bumi.
Istilah "teh" juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal.
Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.
Teh punya sejarah. Sejarah pemanfaatan teh berasal dari Negeri Tirai Bambu Cina. Budaya minum teh dikenal sejak 3000 tahun sebelum Masehi pada zaman Kaisar Shen Nung. Dulunya, teh hanya dikonsumsi untuk obat. Namun, sejak abad ke-11 teh mulai dijadikan minuman kesegaran.
Sementara itu, teh yang punya nama lain "Camelia Sinensis" mulai diperkenalkan di Jepang antara 1192-1333. Saat itu, ritual minum teh dilakukan oleh pengikut ritual zen.

B.  Proses Pengolahan dan Pengelompokan Teh Produksi PTP Nusantara   VIII 
1. Proses Pengolahan Teh
Pada masa penjajahan Belanda, teh dibudidayakan di Jawa Barat. Bibit-bibit teh dibawa dari Cina. Perkebunan teh Belanda telah turun temurun berada di Jabar. Seperti pabrik teh di Rancabali. Tempat ini adalah salah satu penghasil teh terkemuka di era Belanda. Saat itu, teknologi pengolahan dan penggilingan teh masih bersifat sederhana. Varian teh yang dikonsumsi adalah teh hitam. Pengolahannya sederhana, menggunakan tenaga manusia, dan kebanyakan dari mereka bekerja paksa.
Perkebunan Rancabali terletak di Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, 18 Km ke arah selatan atau 50 Km dari Bandung. Daerah ini terletak di ketinggian, 1.628m diatas permukaan laut. Rancabali memiliki dua komoditi usaha, yaitu Teh dan Kina dengan areal produktif seluas 1550 Ha berada di kaki Gunung Patuha. Perkebunan Rancabali memiliki dua buah pabrik, Pabrik teh Orthodoks dan CTC.
Di pabrik teh Rancabali, puluhan ton daun teh basah diproses.



Berikut ini proses pengolahan teh di pabrik perkebunan teh Rancabali
  1. Proses Pelayuan
Gambar 2.1 Proses Pelayuan






     Daun teh dimasukkan dalam alat pelayuan untuk dikeringkan selama 14 jam agar kandungan air didaunnya berkurang hingga tersisa sekitar 2-3 persen. Proses ini dilakukan untuk memudahkan mengeluarkan senyawa kimia yang berada di dalam teh.
  1. Proses Penggilingan
Gambar 2.2 Proses Penggilingan






Agar zat kimia keluar, daun teh yang telah kering digiling. Penggilingan secara kimiawi dilakukan agar senyawa Polifenol keluar dari daun. Penggilingan berlangsung sekitar 1-2 jam. Proses ini mengakibatkan benturan dan dinding sel daun teh menjadi rusak. Alhasil, cairan sel akan keluar.
  1. Proses Pemotongan
Gambar 2.3 Proses Pemotongan




Teh yang sudah melewati penggilingan boleh dibilang sebagai teh yang bermutu. Selanjutnya, teh dicacah. Dauh teh yang besar dicacah hingga menjadi serbuk. Hasil yang baik idealnya bakal menjadi butiran halus yang siap menjadi penghasil teh.
4.    Proses Pengeringan
Gambar 2.4 Proses Pengeringan







Setelah proses penggilingan selesai, hasil serbuk teh dikeringkan karena masih mengandung 3-4 persen air. Dari pengeringan selama 20 menit ini, telah dapat dihasilkan teh hitam.
5.   Proses Pengayakan
Gambar 2.5 Proses Pengayakan





Teh hitam masih melalui satu proses pengayakan untuk disortir berdasarkan mutu dan kualitas teh. Semakin ringan, semakin baik mutu teh yang dihasilkan.
  1. Proses Uji Kelayakan Rasa dan Aroma
Gambar 2.6 Proses Uji Mutu








Setelah melalui proses panjang, teh pun tetap melalui uji kelayakan rasa dan aroma. Uji rasa ini dilakukan beberapa kali hingga 50 cangkir per hari. Teh yang baik, berwarna tidak keruh dan cenderung merah bening. Mutu yang baik dapat bernilai sekitar Rp 2 juta per kilogram di pasar internasional.
2.   Pengelompokan Teh
Pengelompokan teh berdasarkan tingkat oksidasi:
Teh yang dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangi pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain sehingga harga menjadi lebih mahal. Teh putih kurang terkenal di luar Tiongkok, walaupun secara perlahan-lahan teh putih dalam kemasan teh celup juga mulai populer.
Daun teh yang dijadikan teh hijau biasanya langsung diproses setelah dipetik. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah minimal, proses oksidasi dihentikan dengan pemanasan (cara tradisional Jepang dengan menggunakan uap atau cara tradisional Tiongkok dengan menggongseng di atas wajan panas). Teh yang sudah dikeringkan bisa dijual dalam bentuk lembaran daun teh atau digulung rapat berbentuk seperti bola-bola kecil (teh yang disebut gun powder).

Proses oksidasi dihentikan di tengah-tengah antara teh hijau dan teh hitam yang biasanya memakan waktu 2-3 hari.
Teh hitam  atau teh merah
Daun teh dibiarkan teroksidasi secara penuh sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling umum di Asia Selatan (India, Sri Langka, Bangladesh) dan sebagian besar negara-negara di Afrika seperti: Kenya, Burundi, Rwanda, Malawi dan Zimbabwe. Terjemahan harafiah dari aksara hanzi untuk teh bahasa Tionghoa (红茶) atau (紅茶) dalam bahasa Jepang adalah "teh merah" karena air teh sebenarnya berwarna merah. Orang Barat menyebutnya sebagai "teh hitam" karena daun teh berwarna hitam. Di Afrika Selatan, "teh merah" adalah sebutan untuk teh rooibos yang termasuk golongan teh herbal. Teh hitam masih dibagi menjadi 2 jenis: Ortodoks (teh diolah dengan metode pengolahan tradisional) atau CTC (metode produksi teh Crush, Tear, Curl yang berkembang sejak tahun 1932). Teh hitam yang belum diramu (unblended) dikelompokkan berdasarkan asal perkebunan, tahun produksi, dan periode pemetikan (awal musim semi, pemetikan kedua, atau musim gugur). Teh jenis Ortodoks dan CTS masih dibagi-bagi lagi menurut kualitas daun pasca produksi sesuai standar Orange Pekoe.
Pu-erh  (Póu léi dalam bahasa Kantonis)
Teh pu-erh terdiri dari dua jenis: "mentah" dan "matang." Teh pu-erh yang masih "mentah" bisa langsung digunakan untuk dibuat teh atau disimpan beberapa waktu hingga "matang". Selama penyimpanan, teh pu-erh mengalami oksidasi mikrobiologi tahap kedua. Teh pu-erh "matang" dibuat dari daun teh yang mengalami oksidasi secara artifisial supaya menyerupai rasa teh pu-erh "mentah" yang telah lama disimpan dan mengalami proses penuaan alami. Teh pu-erh "matang" dibuat dengan mengontrol kelembaban dan temperatur daun teh mirip dengan proses pengomposan. Teh pu-erh biasanya dijual dalam bentuk padat setelah dipres menjadi seperti batu bata, piring kecil atau mangkuk. Teh pu-erh dipres agar proses oksidasi tahap kedua bisa berjalan, karena teh pu-erh yang tidak dipres tidak akan mengalami proses pematangan. Semakin lama disimpan, aroma teh pu-erh menjadi semakin enak. Teh pu-erh yang masih "mentah" kadang-kadang disimpan sampai 30 tahun bahkan 50 tahun supaya matang. Pakar bidang teh dan penggemar teh belum menemui kesepakatan soal lama penyimpanan yang dianggap optimal. Penyimpanan selama 10 hingga 15 tahun sering dianggap cukup, walaupun teh pu-erh bisa saja diminum setelah disimpan kurang dari setahun. Minuman teh pu-erh dibuat dengan merebus daun teh pu-erh di dalam air mendidih seringkali hingga lima menit. Orang Tibet mempunyai kebiasaan minum teh pu-erh yang dicampur dengan mentega dari lemak yak, gula dan garam.
Sebutan untuk teh berkualitas tinggi yang disajikan di istana kaisar atau teh yang berasal dari daun teh yang diolah seperti teh hijau tapi dengan proses pengeringan yang lebih lambat.
Teh kualitas rendah dari campuran tangkai daun dan daun teh yang sudah tua hasil pemetikan kedua, dan digongseng di atas wajan.
Teh hijau bercampur berondong dari beras yang belum disosoh, beraroma harum dan sangat populer di Jepang.

Gambar 2.7
Macam-macam Jenis Teh




     Teh Putih                  Teh Hijau                    Teh Oolong                Teh Hitam




       Teh Pu-erh                 Teh Kuning               Teh Kukicha         Teh Genmaicha


C. Produk Teh Produksi PTP. Nusantara VIII
Secara umum, komposisi teh produksi PTP. Nusantara VIII adalah sebagai berikut
Teh mengandung sejenis antioksidan yang bernama katekin. Pada daun teh segar, kadar katekin bisa mencapai 30% dari berat kering. Teh hijau dan teh putih mengandung katekin yang tinggi, sedangkan teh hitam mengandung lebih sedikit katekin karena katekin hilang dalam proses oksidasi. Teh juga mengandung kafein (sekitar 3% dari berat kering atau sekitar 40 mg per cangkir), teofilin dan teobromin dalam jumlah sedikit.
Dari pernyataan diatas, terbukti bagwa kandungan kafein yang ada di teh sangat sedikit dan tidak sebanyak yang ada di kopi. Oleh karena itu, para pengkonsumsi teh di seluruh dunia tidak perlu takut akan kecanduan dengan teh.
Salah satu Produk teh yang diproduksi oleh PTP. Nusantara VIII yaitu teh walini.
Gambar 2.8
Teh Walini






Teh Walini dibuat dari bahan baku teh pilihan yang diolah tanpa campuran apapun, dengan kombinasi campuran beberapa jenis kualitas ekspor, dan dikemas secara profesional. Kemasan teh dibuat sedemikian rupa yang membuat keutuhan mutu teh terjaga. Keunggulan Teh Walini dibanding teh lainnya yang sejenis, diantaranya adalah terbuat dari bahan baku yang berkualitas ekspor dari hasil perpaduan atau kombinasi dari beberapa jenis hasil kreativitas olahan para pakar teh di Indonesia.
 Teh Walini terdiri dari beberapa jenis produk berupa teh celup dan teh seduh, yaitu :
1. Teh Celup Hitam Walini
2. Teh Celup Lemon Walini
3. Teh Celup Jahe Walini
4. Teh Celup Organik Walini
5. Teh Celup Hijau Jepang
6. Teh Celup Hitam Walini TB 1
7. Teh Celup Hitam Walini TB 5
8. Teh Seduh Hitam Walini
9. Teh seduh Hijau Walini
 Tiap-tiap jenis produk dikemas dalam tiga bentuk kemasan yang berjumlah 1-25 buah dalam satu kemasan.
 Jenis produk yang menggunakan kemasan Double Chamber yaitu: Teh Celup Hitam Walini, Teh Celup Lemon Walini, Teh Celup Jahe Walini, Teh Celup Organik Walini, Teh Celup Hijau Jepang. Yang menggunakan kemasan Single Chamber adalah: Teh Celup Hitam Walini TB 1 dan Teh Celup Hitam Walini TB 5, sedangkan teh seduh hitam dan hijau Walini menggunakan kemasan teh seduh.

D. Manfaat Umum Teh Produksi PTP. Nusantara VIII
Pada umumnya teh dapat menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, gusi, stres, membakar lemak, dan membantu menurunkan berat badan. Beruntung, para peneliti selalu menemukan hal baru seputar manfaat teh untuk kesehatan.
Berkut ini manfaat dari beberapa jenis teh, yaitu : 
Teh hijau
Teh hijau dibuat dari daun teh yang tidak difermentasi sehingga mengandung polyphenols konsentrat tinggi. Teh hijau sering dimanfaatkan untuk mengurangi risiko kanker dan penyakit jantung, menurunkan kolesterol, menurunkan berat badan (terutama lemak perut). Teh hijau juga memberi manfaat dalam menurunkan risiko diabetes dan Alzheimer’s.
Teh hitam
Penelitian menunjukkan bukti bahwa teh hitam efektif menurunkan kortisol, hormon stres.
Lebih jauh, partisipan mengalami penurunan tingkat kortisol dalam darah mereka setelah stres berat. Kuncinya, mereka mengonsumsi teh hitam empat kali per hari selama enam minggu. Teh hitam juga mampu mengurangi risiko kanker.
Sebuah kajian terbaru menunjukkan bahwa minum teh hitam bisa benar-benar membantu pertumbuhan dan perbaikan lapisan tisu tulang.
Teh putih
Teh putih kurang dikenal, tapi tak membuatnya kurang sehat. Teh putih, khususnya ekstrak teh putih terbukti mampu memperlambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan infeksi Staphylococcus, infeksi Streptococcus, pneumonia, dan karies gigi, serta meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh.
“Menurut Milton Schiffenbauer PhD, profesor mikrobiologi dan biologi pada Pace University’s Dyson College of Arts & Sciences, efek antivirus dan antibakteri dari beberapa merek pasta gigi adalah karena tambahan ekstrak teh putih,” tambah Bailey. (www.californiateahouse.com)
Teh oolong
Teh oolong terbukti mampu mendorong metabolisme tubuh, membakar lemak, membantu menurunkan berat badan, dan menjaga kesehatan kulit.
“Wanita yang minum teh oolong dua cangkir sehari meningkatkan metabolisme mereka sekira 157 persen melebihi wanita yang minum teh hijau dalam jumlah yang sama,” kata Bailey seperti mengutip sebuah kajian yang dipublikasikan Journal of Medical Investigation. (www.californiateahouse.com).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
  1. Proses pengolahan teh di PTP. Nusantara VIII secara umum yaitu :
1.      Pelayuan
2.      Penggilingan
3.      Pemotongan
4.      Pengeringan
5.      Pengayakan
6.      Uji Mutu
  1. Beberapa manfaat yang ditimbulkan dari teh produksi PTP. Nusantara VIII yaitu :
1.      Menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, diabetes, gusi, stres, kolesterol
2.      Membakar lemak
3.      Membantu menurunkan berat badan
4.      Meningkatkan metabolisme sel dalam tubuh
5.      Menambah kecantikan dan awet muda
6.       Memperlambat pertumbuhan bakteri
7.      Membantu pertumbuhan tulang
c.   Teh mengandung kafein (sekitar 3% dari berat kering atau sekitar 40 mg per cangkir), oleh karena itu sudah jelas terbukti bahwa meminum teh secara teratur tidak akan menyebabkan kecanduan seperti halnya kopi karena kandungan kafein yang ada di teh lebih sedikit.

B. Saran
 Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses pembuatan teh dan pembelajaran bagi siswa siswi lebih efektif, maka disampaikan saran sebagai berikut :
1.      Perlu diadakannya penambahan karyawan baru, agar proses pembuatan teh lebih efisien dan mutunya lebih maksimal.
2.      Peningkatan kualitas alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan teh. Alat-alat yang digunakan sebaiknya lebih canggih dan efisien.
3.      Perlu adanya penelitian lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan oleh kelas XI MAN Surabaya Tahun Pelajaran 2009/2010.








DAFTAR PUSTAKA
Situs :


























1 komentar: